BPS Catat Tingkat Pengangguran Indonesia Turun Pada November 2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 15:46:20 WIB
BPS Catat Tingkat Pengangguran Indonesia Turun Pada November 2025

JAKARTA - Penurunan tingkat pengangguran kembali menjadi sorotan dalam perkembangan ketenagakerjaan nasional. Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan kondisi pasar kerja Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih positif. 

Tren ini memperlihatkan hasil dari meningkatnya penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor, terutama pada paruh akhir tahun lalu, seiring dengan bertambahnya jumlah angkatan kerja secara nasional.

Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia mengalami penurunan pada November 2025. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa kesempatan kerja semakin terbuka dan aktivitas ekonomi menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan. 

Kondisi ini juga mencerminkan kemampuan sektor usaha dalam menyerap tambahan tenaga kerja baru di tengah dinamika perekonomian.

Tren Penurunan Pengangguran Nasional

Badan Pusat Statistik mengumumkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia turun menjadi 4,74 persen pada November 2025. Angka ini disebut terus mengalami penurunan sejak Agustus 2024. 

Pada Agustus 2024, tingkat pengangguran tercatat sebesar 4,91 persen. Selanjutnya, angka tersebut turun menjadi 4,76 persen pada Februari 2025, kemudian sempat meningkat menjadi 4,85 persen pada Agustus 2025, sebelum kembali menurun pada November 2025.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat fluktuasi, tren jangka menengah pengangguran di Indonesia masih mengarah pada perbaikan. 

Penurunan ini tidak terlepas dari peningkatan aktivitas ekonomi serta membaiknya iklim usaha yang mendorong pembukaan lapangan kerja baru di berbagai sektor strategis.

Perkembangan Angkatan Kerja Dan Penyerapan

Dari total 155,27 juta orang angkatan kerja di Indonesia, sebanyak 147,91 juta orang tercatat telah bekerja. Sementara itu, jumlah penduduk yang masih menganggur tercatat sebanyak 7,35 juta orang. Sepanjang periode Agustus hingga November 2025, jumlah angkatan kerja mengalami peningkatan sebanyak 1,26 juta orang.

Pada periode yang sama, penyerapan tenaga kerja justru tumbuh lebih tinggi, yakni sebanyak 1,37 juta orang. Kondisi ini menyebabkan jumlah pengangguran berkurang sekitar 109 ribu orang. 

Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kesempatan kerja mampu mengimbangi bahkan melampaui pertambahan jumlah angkatan kerja baru.

Dari total penduduk yang bekerja, sebanyak 100,49 juta orang merupakan pekerja penuh waktu. Kelompok ini bekerja setidaknya 35 jam dalam seminggu, yang mencerminkan peningkatan kualitas kesempatan kerja dibandingkan dengan pekerjaan paruh waktu atau tidak penuh.

Sektor Penyerap Tenaga Kerja Terbesar

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa penyerapan tenaga kerja terbesar masih didominasi oleh sektor-sektor tradisional dan industri pengolahan. 

“Tiga lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbanyak adalah pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan,” ucap Amalia.

Ia menjelaskan, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan proporsi mencapai 27,99 persen dari total penduduk bekerja. 

Sektor perdagangan berada di posisi berikutnya dengan kontribusi sebesar 18,67 persen, sementara industri pengolahan menyerap sekitar 13,86 persen tenaga kerja nasional.

Selain itu, pada periode Agustus hingga November 2025, beberapa sektor mencatat peningkatan tenaga kerja paling signifikan. Lapangan usaha akomodasi dan makan minum mengalami penambahan sekitar 381 ribu tenaga kerja. Industri pengolahan menambah sekitar 196 ribu pekerja, sedangkan sektor perdagangan bertambah sekitar 168 ribu orang.

Peningkatan Pekerja Formal Berkelanjutan

BPS juga mencatat adanya peningkatan proporsi penduduk yang bekerja di sektor formal. Amalia menjelaskan bahwa tren ini menunjukkan perbaikan struktur ketenagakerjaan nasional. 

“Proporsi penduduk yang bekerja pada kegiatan formal pun terus mengalami peningkatan dari 40,83 persen pada Februari 2024, 42,05 persen pada Agustus 2024, 40,60 persen di Februari 2025, 42,20 persen pada Agustus 2025, menjadi 42,30 persen di November 2025,” jelasnya.

Peningkatan pekerja formal dinilai penting karena berkaitan dengan stabilitas pendapatan, perlindungan tenaga kerja, serta jaminan sosial yang lebih baik. Kondisi ini juga mencerminkan transformasi pasar kerja yang semakin mengarah pada sektor-sektor produktif dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa kondisi ketenagakerjaan Indonesia terus membaik. Penurunan tingkat pengangguran, peningkatan penyerapan tenaga kerja, serta bertambahnya proporsi pekerja formal menjadi indikator positif bagi perekonomian nasional ke depan.

Terkini