JAKARTA - Cak Imin: Pers Harus Tetap Berpihak pada Kebenaran di Tengah Disrupsi Digital menjadi pesan utama Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar.
Ia menekankan pentingnya pers tetap konsisten menjaga integritas di tengah derasnya arus informasi digital. Pesan ini disampaikannya saat menghadiri peringatan Hari Pers Nasional di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten.
Menurut Cak Imin, kekuatan pers muncul dari daya kritis yang konstruktif dan tanggung jawab terhadap publik. Ia menekankan setiap produk jurnalistik harus mencerminkan kebenaran dan keberimbangan.
“Kekuatan pers sejatinya bersumber dari daya kritis yang konstruktif. Pers yang menjunjung tinggi kebenaran, keberimbangan, dan tanggung jawab publik,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa jurnalisme bukan hanya sekadar penyampaian berita cepat. Lebih dari itu, pers harus tetap menjadi pilar informasi yang dapat dipercaya masyarakat. Hal ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kualitas demokrasi.
Tantangan Pers di Era Digital
Cak Imin menyoroti perubahan drastis pola konsumsi informasi akibat teknologi digital. Saat ini sebagian besar masyarakat telah terhubung dengan internet, sementara rata-rata penggunaan media sosial mencapai beberapa jam per hari. Fenomena ini menjadi tantangan besar karena batas antara fakta dan rekayasa informasi semakin tipis.
Menurutnya, algoritma dan kecerdasan artifisial memengaruhi banyak keputusan setiap detik. Pers harus tetap mengedepankan verifikasi, etika, dan semangat jurnalistik yang berorientasi pada kebenaran.
“Hari ini ketika setiap detik miliaran keputusan diambil oleh mesin, algoritma, dan sistem kecerdasan artifisial, arah bangsa baik buruknya demokrasi tetap harus di tangan kualitas media dan pers kita,” tegasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hambatan, tetapi ujian bagi integritas pers. Pers perlu menyesuaikan diri dengan teknologi tanpa kehilangan nilai dasar jurnalistik. Hal ini menuntut profesionalisme dan kedewasaan dalam mengelola informasi.
Pers Sebagai Pilar Demokrasi
Cak Imin menekankan peran pers sebagai penyuluh peradaban sekaligus penggerak perubahan sosial. Ia menilai kualitas bangsa sangat dipengaruhi cara pers bekerja dan menyampaikan informasi. Pers tidak bisa hanya mengandalkan kecepatan atau teknologi, tetapi harus tetap menjunjung kebenaran.
“Tanpa sentuhan manusia jurnalisme berisiko kehilangan empati. Tanpa verifikasi dan etika, ia hanya melahirkan berita halusinasi, dan tanpa keberpihakan pada kebenaran, ia akan menjauh dari publiknya sendiri,” paparnya. Pernyataan ini menegaskan pentingnya human centered journalism dalam menghadapi arus disrupsi digital.
Selain itu, pers juga memiliki tanggung jawab membentuk opini publik secara sehat. Penyebaran informasi harus diarahkan pada manfaat bagi masyarakat dan bangsa. Keberpihakan pada kebenaran menjadi fondasi utama agar pers tetap relevan.
Jurnalisme Tak Boleh Kalah oleh Algoritma
Cak Imin menegaskan bahwa teknologi digital harus menjadi alat bantu, bukan pengganti nilai dasar jurnalistik. Algoritma dan kecerdasan artifisial dapat mempercepat distribusi berita, tetapi tidak bisa menentukan kebenaran. Pers tetap harus bertumpu pada prinsip jujur, akurat, dan adil.
Ia menekankan bahwa rakyat tidak hanya membutuhkan informasi cepat, tetapi juga informasi yang benar dan bermanfaat. Pers yang gagal memverifikasi fakta berisiko menyesatkan masyarakat. Oleh karena itu, algoritma sebaiknya digunakan untuk mendukung pekerjaan jurnalistik, bukan menggantikannya.
Teknologi harus memperkuat kemampuan pers dalam menyampaikan informasi yang bertanggung jawab. Hal ini termasuk menjaga keberimbangan berita, verifikasi fakta, dan akurasi data. Dengan demikian, pers tetap menjadi rujukan yang dapat diandalkan masyarakat.
Pentingnya Human Centered Journalism
Cak Imin mengingatkan insan pers agar selalu menempatkan manusia di pusat laporan jurnalistik. Human centered journalism menjadi strategi penting menghadapi disrupsi digital. Pers harus menjaga empati, integritas, dan fokus pada manfaat informasi bagi publik.
Kualitas informasi akan menentukan arah demokrasi dan pembangunan bangsa. Pers yang berpihak pada kebenaran sekaligus berorientasi pada manusia akan memperkuat kepercayaan publik. Hal ini menjadi modal utama agar pers tetap relevan di era digital yang dinamis.
Pernyataan Cak Imin ini menegaskan bahwa teknologi dan nilai kemanusiaan harus berjalan beriringan. Pers harus cerdas memanfaatkan alat digital tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalisme. Dengan demikian, pers tetap menjadi pilar demokrasi yang kuat dan dapat dipercaya masyarakat.