Pengembangan PLTS 100 GW Tingkatkan Industri Domestik dan Lapangan Kerja

Selasa, 24 Februari 2026 | 11:10:55 WIB
Pengembangan PLTS 100 GW Tingkatkan Industri Domestik dan Lapangan Kerja

JAKARTA - Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt membuka peluang baru bagi industri nasional. 

Proyek ini dilengkapi sistem penyimpanan energi 320 gigawatt hour yang tersebar di 80.000 desa. Pemerintah menilai inisiatif ini bisa menjadi katalis penguatan sektor manufaktur dan rantai pasok domestik.

Potensi Industri dan Investasi

Asisten Deputi Pengembangan Ketenagalistrikan dan Geologi Kemenko Perekonomian, Sunandar, menegaskan bahwa proyek PLTS 100 GW akan memberikan kepastian pasar bagi industri dalam negeri. 

“Inisiatif PLTS 100 GW membuka peluang besar bagi industri dalam negeri karena menciptakan kepastian pasar untuk menarik investasi manufaktur panel surya dan pengembangan rantai pasok domestik, sehingga dapat memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja,” ujar Sunandar. Pernyataan ini menekankan bahwa dukungan pemerintah akan mendorong sektor manufaktur panel surya agar tumbuh secara berkelanjutan.

Proyek ini diharapkan menjadi magnet investasi baru di sektor energi bersih. Kepastian pasar yang diciptakan oleh program PLTS memungkinkan perusahaan lokal bersaing dengan pemain internasional. Hal ini sekaligus menumbuhkan ekosistem industri yang lebih kuat dan terintegrasi di Indonesia.

Transisi Energi dan Pertumbuhan Ekonomi

Sunandar menambahkan bahwa agenda transisi energi sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional. Energi bersih diharapkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia dapat mencatat pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga intensitas karbon agar pembangunan tetap ramah lingkungan.

“Selain itu, inisiatif ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui penyediaan energi yang mendukung kegiatan ekonomi desa, sehingga produktivitas dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” lanjut Sunandar. 

Dengan kata lain, proyek ini bukan hanya soal listrik, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal di wilayah terpencil. Penggunaan energi bersih di desa-desa diharapkan mendorong aktivitas produktif masyarakat.

Pemerintah melihat transisi energi sebagai upaya strategis untuk menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan. PLTS 100 GW menjadi langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Dampak jangka panjangnya diyakini akan memperkuat posisi Indonesia di sektor energi global.

Akses Listrik hingga Desa Terpencil

Program PLTS 100 GW dirancang untuk memperluas akses listrik hingga seluruh desa di Indonesia. Proyek ini akan dikelola oleh 80.000 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Langkah ini diharapkan menutup kesenjangan elektrifikasi di wilayah yang belum terjangkau jaringan PLN.

Kebijakan ini menjadi jawaban atas tantangan listrik bagi sekitar 5.758 desa atau 1,2 juta rumah tangga yang belum menikmati akses listrik. Dengan adanya PLTS, desa-desa tersebut dapat menikmati energi terbarukan secara berkelanjutan. Proyek ini juga memungkinkan masyarakat lokal berpartisipasi langsung dalam pengelolaan energi.

Pemberdayaan koperasi desa diyakini dapat meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proyek besar. Hal ini juga mendorong kemandirian desa melalui pengelolaan energi lokal. Dampaknya, akses listrik tidak hanya terpenuhi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Manfaat Sosial dan Ekonomi

Manfaat sosial dari proyek PLTS 100 GW tidak terbatas pada penyediaan energi listrik. Kehadiran energi bersih ini diharapkan memperkuat kegiatan ekonomi desa, mulai dari usaha mikro hingga sektor pendidikan dan kesehatan. Dengan akses listrik, masyarakat dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup secara langsung.

Selain itu, proyek ini akan menciptakan lapangan kerja baru bagi tenaga kerja lokal. Mulai dari instalasi, perawatan, hingga manajemen energi, banyak posisi yang dapat diisi oleh masyarakat setempat. “Inisiatif PLTS 100 GW menciptakan peluang kerja sekaligus memperkuat industri domestik,” jelas Sunandar.

Peningkatan kapasitas energi ini juga mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan di seluruh Indonesia. Desa-desa yang sebelumnya tidak memiliki listrik kini dapat mengembangkan usaha produktif. Secara keseluruhan, proyek ini diharapkan memberi efek domino bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Mendorong Kedaulatan Energi Nasional

Rencana PLTS 100 GW merupakan langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan energi nasional. Dengan mengurangi ketergantungan pada energi impor, Indonesia dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan listrik. Selain itu, pengembangan industri panel surya dalam negeri juga meningkatkan kapasitas teknologi lokal.

Program ini tidak hanya menekankan penyediaan listrik, tetapi juga pembinaan rantai pasok dan inovasi teknologi. Pelatihan dan pengembangan tenaga kerja lokal menjadi fokus agar industri domestik dapat bersaing di tingkat global. 

Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun sektor energi yang tangguh dan berkelanjutan.

Melalui proyek PLTS 100 GW, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pusat energi terbarukan di Asia Tenggara. Dampak ekonominya diharapkan menyentuh seluruh lapisan masyarakat, terutama di desa-desa terpencil. 

Dengan sinergi antara industri, pemerintah, dan masyarakat, proyek ini diharapkan menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi hijau yang kuat dan merata.

Terkini