JAKARTA - Krisis lingkungan dan perubahan iklim menjadi isu global yang tidak bisa ditunda lagi penanganannya.
Di tengah tantangan ini, Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono menegaskan bahwa pemulihan lingkungan bukan sekadar langkah tambahan, melainkan suatu keharusan untuk memastikan kelangsungan hidup umat manusia di bumi.
Dalam pernyataannya, Diaz menekankan bahwa hubungan manusia dengan alam harus kembali pada prinsip dasar: hidup berdampingan dan saling menopang, khususnya melalui aksi sederhana seperti menanam pohon.
Diaz mengungkapkan fakta penting bahwa setiap manusia memerlukan sekitar 0,5 kilogram oksigen per hari, sementara satu pohon dapat menghasilkan lebih dari dua kali lipat kebutuhan tersebut, yaitu 1,2 kilogram oksigen setiap hari.
Rasio ini menjadi bukti nyata betapa manusia sangat bergantung pada kelestarian tanaman dan hutan sebagai sumber kehidupan. Oleh karena itu, menanam pohon tidak hanya tindakan simbolik, melainkan wujud tanggung jawab kemanusiaan dalam menghadapi krisis iklim yang semakin mengancam.
Pada kegiatan penanaman pohon di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, yang dihadiri oleh Diaz dan Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim dan Transisi Energi Hashim Djojohadikusumo, aspek penting mitigasi bencana alam juga menjadi sorotan.
Wilayah Tapanuli Utara yang merupakan daerah hulu dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru memiliki peranan vital dalam mencegah banjir dan tanah longsor, yang baru-baru ini telah menimbulkan kerugian besar termasuk lebih dari seribu korban jiwa.
Hashim Djojohadikusumo menambahkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menangani perubahan iklim, yang sebagian besar disebabkan oleh emisi karbon negara maju.
Rata-rata emisi karbon warga Indonesia sebesar 3 ton per tahun masih jauh lebih rendah dibandingkan warga negara maju yang bisa menghasilkan hingga 13 ton per tahun.
Ketimpangan ini menimbulkan situasi sulit, karena meskipun Indonesia menjadi korban dampak perubahan iklim, kontribusi terbesar penyebabnya justru datang dari luar negeri.
Ketergantungan Manusia pada Hutan dan Pohon Sebagai Penyedia Oksigen
Di tengah tekanan global atas krisis lingkungan, Wamen LH Diaz Hendropriyono mengajak seluruh masyarakat memahami dan menjalankan peran mereka sebagai bagian dari solusi.
"Kita harus hidup berdampingan dengan pohon dan idealnya setiap orang menanam setidaknya satu pohon," tegas Diaz.
Pernyataan ini menegaskan bahwa aksi kolektif dan individual dalam menanam pohon bisa menjadi fondasi pemulihan lingkungan yang efektif.
Satu pohon tidak hanya berfungsi sebagai penyedia oksigen tetapi juga sebagai pelindung tanah dari erosi dan mitigator perubahan iklim dengan menyerap karbon dioksida.
Mengingat kebutuhan oksigen manusia yang cukup besar, menanam pohon adalah langkah konkret yang bisa dilakukan siapa saja untuk membantu menjaga keseimbangan ekosistem.
Dampak Perubahan Iklim dan Keadilan Emisi Karbon Global
Dalam forum aksi penanaman pohon di Tapanuli Utara, Hashim Djojohadikusumo memaparkan fakta yang membuka mata terkait ketimpangan emisi karbon global.
Negara-negara maju yang mengonsumsi sumber daya lebih besar, justru menghasilkan emisi karbon lebih banyak dibandingkan Indonesia.
Hal ini menciptakan paradoks, di mana Indonesia menghadapi dampak perubahan iklim yang serius, tetapi bukan penyumbang utama penyebabnya.
Hashim menyampaikan bahwa pendekatan mitigasi perubahan iklim harus mempertimbangkan ketidakadilan ini. Perubahan iklim bukan masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan tindakan lokal, melainkan perlu kerja sama global yang adil, dengan negara-negara maju yang harus memikul tanggung jawab lebih besar.
Strategi Pemulihan Lingkungan Sebagai Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Tapanuli Utara menjadi contoh penting bagaimana pemulihan lingkungan dapat berfungsi sebagai mitigasi bencana. Wilayah yang merupakan hulu DAS Batang Toru ini sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Pada November lalu, bencana tersebut telah menelan lebih dari seribu nyawa, mengingatkan semua pihak tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan ekosistem.
Penanaman pohon di daerah ini bukan sekadar simbolis, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana alam.
Hutan yang sehat berfungsi menyerap air hujan, mengurangi limpasan air, dan memperkecil risiko longsor.
Oleh karena itu, investasi pada pemulihan lingkungan adalah investasi untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Menguatkan Kesadaran dan Aksi Bersama untuk Masa Depan Bumi
Pesan Wamen LH Diaz hendropriyono dan Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo menegaskan bahwa krisis iklim dan degradasi lingkungan bukanlah masalah yang bisa ditanggapi secara reaktif dan sporadis.
Aksi pemulihan lingkungan harus menjadi agenda utama yang dilaksanakan secara konsisten dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Mengajak masyarakat untuk menanam pohon adalah langkah awal yang bisa dilakukan siapa saja, di mana saja.
Namun, dukungan dari kebijakan pemerintah, sinergi antara sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas lokal juga sangat penting untuk memperkuat upaya ini.
Bersama-sama, langkah-langkah kecil ini dapat membentuk perubahan besar yang menjaga keberlangsungan hidup manusia dan bumi.