Investasi

Amartha Luncurkan Prosper Bidik Lender Ritel Investasi Fintech

Amartha Luncurkan Prosper Bidik Lender Ritel Investasi Fintech
Amartha Luncurkan Prosper Bidik Lender Ritel Investasi Fintech

JAKARTA - Fintech lending terus mencari cara untuk memperluas partisipasi masyarakat, terutama dari kalangan ritel yang selama ini masih relatif terbatas. 

Di tengah meningkatnya minat publik terhadap investasi digital, pendekatan yang lebih inklusif menjadi kunci agar pendanaan berbasis teknologi dapat berkembang berkelanjutan. 

PT Amartha Mikro Fintek atau Amartha melihat peluang tersebut dengan menghadirkan skema investasi yang lebih mudah diakses, sekaligus memperluas basis lender ritel di dalam ekosistemnya.

Sebagai perusahaan fintech peer to peer lending yang berfokus pada pembiayaan usaha mikro, Amartha selama ini dikenal kuat dalam penyaluran dana ke sektor UMKM pedesaan. Namun dari sisi penghimpunan dana, kontribusi investor ritel dinilai masih bisa ditingkatkan. 

Untuk menjawab tantangan tersebut, Amartha meluncurkan segmen investasi baru bernama Amartha Prosper, yang secara khusus ditujukan bagi masyarakat luas yang ingin mulai berinvestasi di fintech lending.

Peluncuran segmen ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi lebih banyak individu untuk terlibat dalam pembiayaan produktif, tanpa harus memulai dengan modal besar. 

Dengan demikian, Amartha tidak hanya memperluas sumber pendanaan, tetapi juga membangun kesadaran investasi yang berdampak langsung pada sektor usaha mikro.

Fokus Perluasan Lender Ritel

Chief Funding Officer Amartha, Julie Fauzie, mengungkapkan bahwa hingga saat ini struktur penghimpunan dana perusahaan masih didominasi oleh perbankan melalui skema kredit channeling. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi Amartha untuk mulai menyeimbangkan komposisi pendanaan dengan memperbesar porsi lender ritel.

Amartha sendiri telah memiliki lebih dari 320 ribu lender ritel yang aktif berpartisipasi. Meski jumlah tersebut tergolong besar, perusahaan menilai potensi pertumbuhannya masih sangat luas. 

Melalui Amartha Prosper, Amartha berharap dapat meningkatkan partisipasi masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh layanan fintech lending.

Menurut Julie, pendekatan yang diambil adalah membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin mencoba berinvestasi. Partisipasi dapat dimulai dari nominal kecil dan berkembang seiring waktu, sejalan dengan meningkatnya pemahaman dan kepercayaan investor terhadap produk yang ditawarkan.

“Kami sebenarnya ingin menjangkau semua orang. Jadi semakin banyak yang berpartisipasi mungkin bisa dimulai dengan sedikit. Lama-lama bisa jadi lebih besar. Tapi intinya kita ingin prosper together itu digaungkan,” ujar Julie.

Karakteristik Produk Amartha Prosper

Amartha Prosper dirancang sebagai segmen investasi yang menawarkan imbal hasil kompetitif, dengan kisaran 6,5 hingga 14 persen per tahun. 

Skema ini menyasar pendanaan usaha mikro yang dinilai relatif stabil, memiliki arus kas sehat, serta peluang untuk tumbuh lebih besar dalam jangka menengah hingga panjang.

Meski demikian, Amartha menegaskan bahwa imbal hasil investasi tetap dapat dipengaruhi oleh siklus ekonomi tertentu. Oleh karena itu, edukasi kepada investor menjadi bagian penting dalam pengembangan segmen ini, agar masyarakat memahami potensi keuntungan sekaligus risiko yang menyertainya.

Dengan fokus pada pembiayaan produktif, Amartha Prosper tidak hanya menawarkan peluang investasi, tetapi juga memberikan dampak sosial melalui dukungan langsung kepada pelaku usaha mikro di berbagai daerah. Pendekatan ini sejalan dengan visi Amartha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berbasis teknologi.

Rekam Jejak Penyaluran Pembiayaan

Sejak didirikan pada 2010 hingga akhir 2025, Amartha telah menyalurkan pembiayaan kumulatif sebesar Rp37 triliun. Dana tersebut menjangkau sekitar 3,7 juta pelaku UMKM, terutama di wilayah pedesaan yang selama ini memiliki keterbatasan akses pembiayaan formal.

Pada 2025 saja, Amartha mencatat penyaluran pembiayaan modal kerja sebesar Rp13,2 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan year-on-year lebih dari 20 persen, mencerminkan permintaan yang terus meningkat terhadap pembiayaan mikro produktif.

Dari sisi kualitas aset, tingkat Non-Performing Loan atau NPL tetap terjaga di kisaran 4 persen. Hal ini menunjukkan manajemen risiko yang konsisten, sekaligus menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor, baik institusi maupun ritel.

Distribusi Pembiayaan Nasional

Dalam hal sebaran wilayah, sekitar 60 persen portofolio pembiayaan Amartha disalurkan ke luar Pulau Jawa. Sementara sisanya tersebar di berbagai daerah lain di Indonesia.

Strategi ini menegaskan komitmen perusahaan untuk mendorong pemerataan akses pembiayaan, tidak hanya terpusat di wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi.

Pendekatan tersebut juga menjadi nilai tambah bagi investor ritel yang ingin berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerah. Dengan dukungan teknologi, Amartha menghubungkan kebutuhan modal usaha mikro dengan dana masyarakat secara lebih efisien dan transparan.

Ke depan, melalui Amartha Prosper, perusahaan optimistis dapat memperkuat peran lender ritel sebagai salah satu pilar utama pendanaan. Dengan semakin banyak masyarakat yang terlibat, ekosistem fintech lending diharapkan tumbuh lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index