JAKARTA - Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bukan lagi sekadar pemenuhan kewajiban administratif bagi raksasa konstruksi Indonesia, PT ADHI KARYA (Persero) Tbk. Menghadapi tantangan industri bangunan yang kian kompleks, ADHI mengambil langkah proaktif dengan mentransformasi standar keselamatan menjadi sebuah ekosistem budaya yang kolaboratif. Momentum Bulan K3 Nasional 2026 menjadi titik tolak perusahaan untuk memastikan bahwa setiap derap langkah pembangunan infrastruktur berjalan seiring dengan perlindungan maksimal bagi para pekerjanya.
Pada Selasa, 4 Februari 2026, Kantor Pusat ADHI di Jakarta Timur menjadi saksi berkumpulnya para ahli dan praktisi dalam rangkaian agenda strategis. Acara ini bukan hanya seremonial tahunan, melainkan sebuah manifestasi dari visi besar perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang nol kecelakaan (zero accident) melalui pendekatan yang lebih profesional dan terpadu.
Membangun Sinergi Ekosistem K3 Melalui Edukasi Strategis
Pusat dari rangkaian kegiatan ini adalah sebuah seminar mendalam bertajuk "Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal & Kolaboratif". Seminar ini dirancang untuk menjembatani antara kebijakan pemerintah dengan implementasi lapangan. Fokus utamanya adalah bagaimana menjadikan K3 sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kerja setiap Insan ADHI, bukan sekadar beban regulasi yang harus digugurkan.
Pihak manajemen ADHI menyadari bahwa untuk menciptakan ekosistem yang tangguh, diperlukan sinergi lintas sektor. Oleh karena itu, seminar ini menghadirkan kolaborasi antara regulator, asosiasi profesi, dan pelaku industri. Tujuannya jelas: mendorong integrasi yang lebih kuat agar standar keselamatan di Indonesia memiliki standar yang setara dengan industri konstruksi global. Dengan pemahaman yang mendalam, diharapkan setiap unit kerja mampu mengidentifikasi risiko lebih dini dan melakukan mitigasi secara presisi.
Kolaborasi Ahli Demi Keberlanjutan Konstruksi
Kredibilitas acara ini diperkuat dengan kehadiran para pakar yang kompeten di bidangnya. Selain Direktur Utama ADHI, Moeharmein Zein Chaniago, hadir pula Dr. Ratih Fitriani, S.T., M.T. dari Direktorat Keselamatan dan Keberlanjutan Konstruksi Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum. Kehadiran perwakilan kementerian memberikan sudut pandang kebijakan terkini mengenai keberlanjutan infrastruktur di Indonesia.
Selain dari sisi pemerintah, perspektif praktis dan profesional disampaikan oleh Ir. Lazuardi Nurdin, CSP, IPU, ASEAN Eng, selaku Ketua Umum Perkumpulan Ahli Keselamatan Konstruksi Indonesia (PAKKI). Diskusi ini menjadi wadah pertukaran ilmu terkait praktik terbaik (best practices) dalam mengelola proyek-proyek skala besar dengan risiko tinggi. Keterlibatan para ahli ini memastikan bahwa Insan ADHI mendapatkan asupan informasi yang komprehensif, mulai dari aspek teknis hingga manajerial.
Komitmen Kepemimpinan dalam Budaya Keselamatan
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama ADHI, Moeharmein Zein Chaniago, memberikan penegasan mengenai arah kebijakan perusahaan ke depan. Beliau menekankan bahwa K3 adalah pilar utama yang menyokong produktivitas perusahaan secara keseluruhan. Tanpa keselamatan yang terjamin, keberhasilan sebuah proyek akan kehilangan maknanya.
Moeharmein menyampaikan melalui keterangan tertulis pada Senin, 9 Februari 2026, “Penerapan K3 dalam konstruksi merupakan bagian penting dalam mendukung keberhasilan proyek dan peningkatan kinerja perusahaan. ADHI Karya berkomitmen untuk membangun ekosistem yang unggul dan bekelanjutan dengan memperkuat budaya perusahaan dalam peningkatan produktifitas, kesehatan dan keselamatan kerja.” Pernyataan ini menjadi mandat bagi seluruh jajaran manajemen untuk tidak berkompromi terhadap standar keamanan di setiap lini operasional.
Apresiasi bagi Pejuang QHSE di Garis Depan
Sebagai bentuk motivasi dan pengakuan atas dedikasi para karyawan, ADHI juga menyelenggarakan sesi Awarding. Penghargaan diberikan kepada figur-figur yang dinilai mampu mengimplementasikan standar Quality, Health, Safety, and Environment (QHSE) secara luar biasa di lapangan. Dua kategori utama yang diberikan adalah Awarding Best Project QHSE Manager dan TBM Excellence Award.
Pemberian penghargaan ini memiliki tujuan ganda. Pertama, sebagai apresiasi atas kerja keras individu dalam menjaga keselamatan di lokasi proyek yang menantang. Kedua, sebagai pemicu semangat bagi seluruh Insan ADHI agar terus berlomba-lomba meningkatkan standar kerja mereka. Dengan adanya pengakuan resmi dari perusahaan, diharapkan budaya K3 dapat menyebar secara masif ke seluruh unit kerja operasional, dari tingkat manajerial hingga pekerja teknis di lapangan.
Misi Keberlanjutan Infrastruktur Nasional
Langkah yang diambil ADHI Karya ini merupakan bagian dari tanggung jawab lebih besar sebagai salah satu BUMN konstruksi terkemuka. Dengan memperkuat implementasi K3 secara konsisten, ADHI berkontribusi langsung pada pembangunan infrastruktur nasional yang tidak hanya megah secara fisik, tetapi juga aman dan berkelanjutan bagi masa depan.
Melalui seminar dan penghargaan ini, para peserta dibekali dengan wawasan strategis mengenai manajemen kebijakan dan implementasi praktik terbaik. Tujuannya adalah menciptakan harmoni antara kualitas hasil konstruksi dengan kesehatan dan keselamatan para pekerjanya. ADHI percaya bahwa produktivitas tinggi hanya bisa dicapai jika rasa aman telah tertanam dalam diri setiap individu yang terlibat dalam pembangunan.
Momentum Transformasi Menuju Masa Depan
Peringatan Bulan K3 Nasional 2026 ini bukan sekadar seremoni tutup tahun, melainkan momentum pengingat akan pentingnya konsistensi. ADHI Karya terus berupaya membangun ekosistem yang unggul dengan memperkuat budaya perusahaan melalui peningkatan produktivitas yang selaras dengan perlindungan tenaga kerja.
Ke depannya, ADHI berkomitmen untuk terus berinovasi dalam sistem pengawasan keselamatan kerja, memanfaatkan teknologi terkini, dan memastikan bahwa setiap proyek infrastruktur yang mereka kerjakan menjadi standar acuan keselamatan bagi industri konstruksi di Indonesia. Keselamatan adalah investasi, dan ADHI telah memilih untuk menginvestasikan masa depannya pada perlindungan manusia dan keberlanjutan karya.