JAKARTA - Menjelang bulan suci Ramadhan dan musim haji tahun ini, pemerintah mulai mematangkan langkah strategis untuk memastikan kebutuhan konsumsi jamaah haji Indonesia terpenuhi dengan standar terbaik.
Salah satu fokus utamanya adalah pengiriman Beras Haji Nusantara ke Arab Saudi agar dapat digunakan oleh jamaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menargetkan pengiriman beras tersebut dapat dimulai pada awal Ramadhan, sehingga sebelum puncak musim haji seluruh kebutuhan sudah tersedia di dapur-dapur penyedia layanan di Makkah dan Madinah. Upaya ini bukan hanya menyangkut logistik, tetapi juga menjadi bagian dari strategi efisiensi dan peningkatan kualitas layanan konsumsi jamaah Indonesia.
Target Pengiriman Awal Ramadhan
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat proses distribusi tersebut.
“Beras Nusantara diupayakan minggu awal Ramadhan sudah mulai kami kirim dengan harapan sebelum musim haji sudah sampai,” ujar Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Total kebutuhan beras untuk 205.420 orang, yang terdiri atas jamaah reguler dan petugas haji, diperkirakan mencapai 2.280 ton. Perhitungan ini didasarkan pada intensitas konsumsi jamaah selama berada di Arab Saudi, yakni 78 kali makan di Makkah, 27 kali di Madinah, serta enam kali makan di wilayah Armuzna.
Selama ini, dapur penyedia layanan konsumsi haji di Arab Saudi umumnya menggunakan beras komoditas dari negara lain. Harga pasar beras tersebut berada di kisaran 150 SAR per 40 kilogram atau setara Rp16.824 per kilogram. Kondisi ini mendorong pemerintah Indonesia untuk menghadirkan alternatif yang dinilai lebih sesuai dengan preferensi jamaah sekaligus lebih efisien.
Efisiensi Harga dan Standarisasi Menu
Melalui program Beras Haji Nusantara, pemerintah menargetkan harga beras saat tiba di dapur penyedia layanan dapat menyentuh Rp16.000 per kilogram. Langkah ini diharapkan mampu menekan biaya tanpa mengurangi kualitas.
Selain efisiensi, penggunaan beras dari dalam negeri juga menjadi bagian dari standardisasi menu jamaah. Dalam komposisi menu yang telah ditetapkan, setiap jamaah akan memperoleh nasi seberat 170 gram untuk setiap kali makan. Menu tersebut dilengkapi lauk seberat 80 gram, sayur 75 gram, serta air mineral dan pelengkap lainnya.
Dengan pola konsumsi yang sudah terstruktur tersebut, ketersediaan bahan baku utama berupa beras menjadi sangat krusial. Oleh karena itu, percepatan pengiriman sejak awal Ramadhan dinilai sebagai langkah strategis agar tidak terjadi kendala logistik saat musim haji berlangsung.
Dukungan Bapanas dan Bulog
Dari sisi regulasi dan mekanisme ekspor, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan prosesnya akan berjalan sesuai ketentuan. Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy menyampaikan bahwa pihaknya siap menerbitkan penugasan resmi kepada Perum Bulog.
"Kaitan dengan ekspor beras haji nanti, setelah ada risalah dari rapat pada hari ini, maka Badan Pangan Nasional akan menyiapkan surat penugasan kepada Bulog untuk melakukan ekspor beras haji tersebut," kata Sarwo.
Penugasan tersebut menjadi landasan administratif agar Bulog dapat mengeksekusi pengiriman dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Dengan stok yang dinilai melimpah, ekspor untuk kebutuhan jamaah haji diyakini tidak akan mengganggu pasokan domestik.
Sinergi lintas kementerian dan lembaga ini menunjukkan bahwa pengadaan Beras Haji Nusantara bukan hanya program sektoral, melainkan kebijakan terkoordinasi yang melibatkan Kemenhaj, Bapanas, Bulog, hingga Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Preferensi Jamaah dan Komitmen Pemerintah
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan turut menegaskan pentingnya penggunaan beras produksi dalam negeri untuk konsumsi jamaah Indonesia. Selain mempertimbangkan ketersediaan stok, faktor selera dan preferensi jamaah juga menjadi pertimbangan utama.
"Hari ini kita menyepakati berasnya dari kita. Jadi jamaah haji besok 200 ribu lebih orang, berasnya harus dari kita," kata Menko Zulkifli Hasan.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan penuh telah disepakati dalam rapat koordinasi terkait program tersebut.
"Kita dukung prosesnya. Jamaah lebih suka beras kita, kan pulen. Jadi kita tadi semua mendukung penuh dan memutuskan agar beras itu dari kita, ekspor ke Arab Saudi," ucapnya.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa kebijakan ini tidak hanya berorientasi pada efisiensi anggaran, tetapi juga pada kenyamanan jamaah selama menjalankan ibadah. Karakteristik beras Indonesia yang dikenal lebih pulen dinilai lebih sesuai dengan kebiasaan konsumsi masyarakat Indonesia.
Dengan langkah percepatan pengiriman sebelum Ramadhan, pemerintah berharap seluruh kebutuhan konsumsi jamaah dapat terpenuhi tepat waktu. Program Beras Haji Nusantara pun menjadi simbol komitmen negara dalam meningkatkan kualitas layanan haji, sekaligus mengoptimalkan potensi pangan nasional untuk mendukung kebutuhan warga negara di luar negeri.