JAKARTA - Dalam menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi global, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar melihat ekonomi hijau dan circular economy sebagai peluang besar yang tidak hanya berfokus pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, dua konsep ini harus diterima sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan secara luas, tidak hanya di tingkat elit, tetapi juga di akar rumput masyarakat Indonesia.
Muhaimin Iskandar menyatakan bahwa transisi menuju ekonomi hijau harus melibatkan masyarakat secara menyeluruh, menciptakan nilai tambah yang nyata dan berdampak langsung kepada kesejahteraan mereka.
Melalui kuliah umum yang disampaikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, ia menekankan pentingnya agar masyarakat menjadi bagian integral dari setiap proses perubahan yang berkaitan dengan energi terbarukan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Peluang Ekonomi Hijau dalam Sektor Energi Terbarukan
Menurut Muhaimin, sektor energi terbarukan memiliki potensi besar untuk melibatkan masyarakat dalam berbagai tahapan produksinya. Mulai dari rantai pasok manufaktur komponen energi terbarukan, pengoperasian dan pemeliharaan fasilitas energi, hingga pengembangan bioenergi berbasis komunitas.
Melalui cara-cara ini, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen energi, tetapi juga bagian dari sektor yang menyuplai kebutuhan energi terbarukan itu sendiri.
Hal ini membuka peluang kerja baru, baik di sektor manufaktur komponen energi terbarukan seperti panel surya dan turbin angin, maupun dalam hal perawatan dan pengoperasian fasilitas energi yang lebih ramah lingkungan.
Terlebih lagi, masyarakat di daerah pedesaan atau terpencil yang memiliki potensi sumber daya alam terbarukan, seperti sinar matahari atau angin, dapat terlibat langsung dalam industri ini. Dengan demikian, ekonomi hijau akan menciptakan lapangan kerja baru yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Potensi Agroindustri Sirkular dalam Pemberdayaan Petani dan Koperasi
Selain sektor energi terbarukan, sektor agroindustri sirkular juga memiliki prospek besar dalam pemberdayaan masyarakat. Konsep agroindustri sirkular tidak hanya bertujuan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga untuk mengelola limbah pertanian, yang biasanya menjadi sampah, menjadi bioenergi dan biomaterial yang bernilai ekonomis.
Hal ini dapat menguntungkan petani dan koperasi pertanian dengan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup mereka.
Muhaimin mencontohkan bagaimana limbah pertanian, seperti sisa tanaman atau limbah organik lainnya, dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif atau produk-produk ramah lingkungan lainnya.
Proses pengolahan limbah ini tidak hanya membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani yang selama ini bergantung pada penghasilan dari hasil pertanian mereka.
Jika dikelola dengan baik, konsep agroindustri sirkular ini dapat menciptakan nilai tambah yang signifikan, serta memberikan solusi terhadap masalah limbah pertanian yang sering kali menjadi masalah besar di pedesaan.
Mengelola Sampah Elektronik Sebagai Sumber Ekonomi Baru
Menko PM juga menyoroti potensi besar dalam sektor pengelolaan sampah elektronik (e-waste), yang kini semakin meningkat volumenya di seluruh dunia.
Sampah elektronik tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber ekonomi baru jika dikelola dengan cara yang tepat. Limbah elektronik mengandung logam bernilai tinggi seperti tembaga, nikel, dan kobalt, yang dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.
Dengan pemilahan dan daur ulang yang dilakukan secara terorganisasi dan berbasis teknologi, e-waste bisa menjadi peluang besar bagi masyarakat, khususnya mereka yang berada di kalangan berpenghasilan rendah. Ini adalah contoh konkret bagaimana circular economy dapat menjadikan masalah sosial sebagai sumber kesejahteraan.
Melalui pendekatan ini, masyarakat yang mungkin selama ini menganggap sampah elektronik sebagai hal yang tidak berguna, dapat melihatnya sebagai peluang ekonomi yang mampu memberikan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan mereka.
Sinergi antara Pemerintah, Industri, dan Perguruan Tinggi
Muhaimin menekankan bahwa keberhasilan ekonomi hijau dan circular economy tidak bisa terwujud hanya oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi yang solid antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, serta masyarakat. Dalam konteks ini, ITB memiliki peran strategis yang sangat penting dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau.
Sebagai lembaga pendidikan tinggi, ITB diharapkan dapat berperan dalam membangun kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul, menetapkan standar teknologi, serta memastikan inovasi yang dihasilkan dapat berdampak nyata bagi masyarakat.
Muhaimin berharap, dari kampus seperti ITB, konsep circular economy dapat berkembang dari sekadar wacana menjadi sistem yang nyata, dari proyek menjadi ekosistem, dan akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya industrialisasi yang hijau dan sirkular untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global, serta mencapai tingkat inklusivitas dan keadilan sosial yang lebih tinggi.