JAKARTA - Banjir yang melanda wilayah Halmahera Barat pada Januari 2026 tak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur kelistrikan di sejumlah titik.
Di tengah akses jalan yang terputus dan kondisi geografis yang sulit dijangkau, PT PLN (Persero) bergerak cepat untuk memastikan aliran listrik kembali menyala. Upaya pemulihan ini tidak hanya bertumpu pada aspek teknis, tetapi juga menuntut kolaborasi erat dengan pemerintah daerah agar proses normalisasi berjalan lebih efektif.
PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) bersama Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Sofifi terus melakukan percepatan pemulihan jaringan listrik di kawasan terdampak banjir Halmahera Barat. Kerja keras di lapangan menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjaga keandalan pasokan energi, bahkan di tengah kondisi darurat sekalipun.
Akses Terbatas, Pemulihan Tetap Dikebut
General Manager PLN UIW MMU, Noer Soeratmoko, menegaskan bahwa proses pemulihan dilakukan dalam situasi penuh tantangan.
"PLN kembali mengalirkan listrik bagi masyarakat, meskipun menghadapi tantangan akses yang luar biasa, mulai dari jalan terputus hingga lokasi jaringan yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Karena itu sinergi dengan pemerintah daerah menjadi kunci agar pemulihan ini dapat dipercepat," kata General Manager PLN UIW MMU, Noer Soeratmoko di Ternate, Kamis.
Kondisi di lapangan memang tidak sederhana. Beberapa titik jaringan rusak berada di lokasi yang sulit ditembus kendaraan operasional. Petugas harus berjalan kaki membawa peralatan untuk menjangkau area terdampak. Dalam situasi seperti ini, dukungan berupa alat berat serta pembenahan infrastruktur jalan menjadi kebutuhan mendesak.
PLN juga memerlukan fasilitasi pembebasan area tanaman di sekitar jaringan listrik agar proses perbaikan dapat dilakukan dengan aman dan cepat. Langkah ini penting untuk memastikan jaringan yang diperbaiki tidak kembali terganggu oleh potensi bahaya dari lingkungan sekitar.
Keselamatan Jadi Prioritas Utama
Dalam setiap tahapan pemulihan, aspek keselamatan menjadi perhatian utama. Noer menegaskan bahwa upaya yang dilakukan bukan sekadar membangun kembali jaringan yang rusak, tetapi juga memastikan keamanan masyarakat dan personel di lapangan.
"Kami tidak hanya sedang membangun kembali jaringan listrik, tetapi juga memastikan keselamatan masyarakat dan petugas. Dengan kolaborasi yang kuat bersama pemerintah daerah, kami optimistis pemulihan kelistrikan dapat segera tuntas dan kembali melayani aktivitas sosial serta ekonomi masyarakat," ujarnya.
Menurut Noer Soeratmoko, pemulihan kelistrikan pascabencana di Halmahera Barat tidak cukup jika hanya mengandalkan pendekatan teknis. Diperlukan dukungan lintas sektor yang solid agar seluruh kendala dapat diatasi bersama.
Ia menjelaskan bahwa kondisi geografis yang menantang, ditambah dampak banjir dan longsor, membuat akses menuju titik-titik kerusakan menjadi sangat terbatas. Hal inilah yang menyebabkan proses normalisasi di beberapa lokasi membutuhkan waktu lebih panjang.
Sinergi PLN dan Pemerintah Daerah
Sebagai langkah konkret mempercepat pemulihan, PLN bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara menggelar pertemuan dengan jajaran Pemprov Maluku Utara serta Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat dan Halmahera Utara.
Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah krusial serta solusi atas berbagai kendala di lapangan dalam rangka pemulihan total jaringan listrik pascabencana yang melanda Sistem Kedi di Halmahera Barat dan sejumlah wilayah di Halmahera Utara.
Sejak awal bencana terjadi, PLN telah mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Personel tambahan diturunkan, peralatan dikerahkan, dan material pengganti disiapkan untuk mempercepat proses perbaikan. Namun, keterbatasan infrastruktur jalan serta akses logistik menjadi faktor utama yang memperlambat pemulihan di beberapa titik terdampak.
Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe menekankan pentingnya kerja sama lintas pihak agar hak masyarakat terhadap akses energi dapat segera terpenuhi. Ia meminta seluruh jajaran pemerintah daerah memberikan dukungan maksimal kepada PLN.
"Karena itu, kami meminta seluruh jajaran pemerintah daerah, khususnya di Halmahera Barat dan Halmahera Utara, untuk memberikan dukungan penuh kepada PLN, baik melalui penyediaan alat berat, perbaikan akses jalan, maupun kemudahan penggunaan lahan. Semua kendala di lapangan harus kita selesaikan bersama agar pemulihan listrik bisa segera tuntas," ujarnya.
Instruksi tersebut mencakup mobilisasi alat berat hingga kemudahan akses lahan bagi petugas PLN yang bekerja di lapangan. Dengan dukungan tersebut, diharapkan proses pemulihan dapat berlangsung lebih cepat dan menyeluruh.
Dampak Bencana di Dua Kabupaten
Banjir yang terjadi pada Januari 2026 berdampak luas di wilayah Maluku Utara. Di Kabupaten Halmahera Barat, tercatat sebanyak 17 desa terdampak yang tersebar di tujuh kecamatan, yakni Kecamatan Sahu Timur, Kecamatan Sahu, Kecamatan Ibu Selatan, Kecamatan Ibu, Kecamatan Tabaru, Kecamatan Loloda, dan Kecamatan Loloda Tengah.
Tidak hanya Halmahera Barat, bencana banjir dan longsor juga menjalar ke Kabupaten Halmahera Utara. Sebanyak 14 desa di tiga kecamatan turut terdampak, yakni Kecamatan Loloda Utara, Kecamatan Galela Utara, dan Kecamatan Kao Barat.
Kerusakan infrastruktur, termasuk jaringan listrik, menjadi salah satu tantangan utama dalam pemulihan pascabencana. Listrik memegang peran vital dalam mendukung aktivitas masyarakat, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pemulihan ekonomi lokal.
Dengan sinergi antara PLN dan pemerintah daerah, proses pemulihan diharapkan dapat segera tuntas. Upaya ini bukan hanya tentang menyalakan kembali aliran listrik, tetapi juga memulihkan denyut kehidupan masyarakat di wilayah terdampak. Di tengah medan berat dan akses terbatas, komitmen untuk menghadirkan kembali energi bagi warga Halmahera Barat dan Halmahera Utara terus menjadi prioritas utama.