Harga Beras

Harga Beras Naik, Pemerintah Pastikan Kualitas dan Pasokan Tetap Terjaga

Harga Beras Naik, Pemerintah Pastikan Kualitas dan Pasokan Tetap Terjaga
Harga Beras Naik, Pemerintah Pastikan Kualitas dan Pasokan Tetap Terjaga

JAKARTA - Kenaikan harga beras medium dan premium terjadi di sejumlah daerah, namun pasokan tetap terjaga dengan baik. 

Masyarakat masih dapat memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari meski harga melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Perhatian pemerintah terhadap distribusi dan stok menjadi kunci agar harga tidak bergejolak secara signifikan.

Kenaikan Harga Beras Medium

Beras medium di beberapa kabupaten/kota mengalami kenaikan cukup tinggi. Di Kabupaten Bintan, harga beras medium naik 16,58 persen menjadi Rp 13.305 per kilogram. “Medium kalau kita cermati ini di perubahan atau kenaikannya masih cukup banyak,” ujar Ateng Hartono Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS.

Di Boven Digoel, Papua Selatan, harga beras medium naik 11,65 persen menjadi Rp 15.000 per kilogram meski masih lebih rendah 3,23 persen dibanding HET. 

Sementara, beberapa daerah di Sumatera Barat mencatat harga medium melampaui HET. Kabupaten Tanah Datar berada 21,43 persen di atas HET dengan harga Rp 17.000 per kilogram, dan Kabupaten Sawahlunto 19,41 persen dengan harga Rp 16.718 per kilogram.

Kenaikan harga ini sebagian besar dipengaruhi fluktuasi distribusi dan logistik. Walau harga meningkat, pasokan beras ke pasar tetap lancar. Hal ini menunjukkan koordinasi antara pemerintah daerah dan distributor berjalan efektif.

Beras Medium di Daerah Lain

Selain Sumatera Barat dan Papua, daerah lain juga mencatat harga medium di atas HET. Kabupaten Simeulue, Aceh, berada 17,14 persen di atas HET dengan harga Rp 16.400 per kilogram. 

Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, tercatat 16 persen di atas HET dengan harga Rp 17.981 per kilogram. Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, naik 11,26 persen menjadi Rp 15.577 per kilogram.

HET beras medium untuk Aceh, Riau, dan Kalimantan masuk Zona 2 dengan harga Rp 14.000 per kilogram. Sedangkan Papua termasuk Zona 3 dengan HET Rp 15.500 per kilogram. 

“Bahkan di Kabupaten Bintan ini juga harga berasnya masih di atas HET-nya,” tambah Ateng. Distribusi yang merata tetap menjadi prioritas untuk menjaga stabilitas harga di pasar.

Penyesuaian harga ini tidak lantas mengganggu daya beli masyarakat. Pemerintah memantau agar stok tetap tersedia. Keberlanjutan pasokan menjadi faktor utama agar inflasi pangan tetap terkendali.

Kenaikan Beras Premium

Selain beras medium, harga beras premium juga mengalami peningkatan di sejumlah daerah. Lonjakan tertinggi tercatat di Kabupaten Boven Digoel dengan persentase 10,14 persen menjadi Rp 17.000 per kilogram, 7,59 persen di atas HET. 

Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, mencatat harga premium tertinggi dibanding HET, yakni selisih 39,24 persen menjadi Rp 22.000 per kilogram.

Di Sumatera Barat, Kabupaten Sawahlunto harga beras premium naik 19,63 persen menjadi Rp 18.423 per kilogram. Halmahera Selatan tercatat 20,25 persen di atas HET dengan harga Rp 19.000 per kilogram. 

Nias Barat mengalami kenaikan 15,26 persen menjadi Rp 17.750 per kilogram, dan Seram Bagian Timur 29,25 persen dengan harga Rp 19.000 per kilogram.

“Beras premium juga ada beberapa kabupaten/kota yang masih mengalami peningkatan cukup tinggi, yaitu di Kabupaten Boven Digoel, ini beras premiumnya meningkat 10,14 persen,” ujar Ateng. Lonjakan harga premium biasanya terjadi karena permintaan tinggi dari konsumen kelas menengah. Hal ini menunjukkan dinamika pasar yang masih sehat.

HET dan Kebijakan Pengendalian

Adapun HET beras premium di Sumatera Barat dan Aceh Rp 15.400 per kilogram, sedangkan di Maluku dan Papua Rp 15.800 per kilogram. Perbandingan harga menunjukkan sebagian daerah masih berada di atas HET, namun pemerintah terus melakukan pengawasan. Ketersediaan beras menjadi fokus utama agar inflasi tetap terkendali.

Kebijakan HET membantu mencegah lonjakan harga yang berlebihan. Pemantauan distribusi dan stok menjadi prioritas agar masyarakat tetap mendapat beras dengan kualitas baik. Dengan koordinasi antara pusat dan daerah, kenaikan harga tetap terkendali sehingga tidak merugikan pembeli.

Selain itu, pengawasan harga oleh pemerintah daerah memudahkan identifikasi lokasi yang mengalami kenaikan tinggi. Intervensi berupa penambahan stok atau operasi pasar bisa segera dilakukan. Hal ini memberikan perlindungan bagi masyarakat yang tergantung pada beras sebagai kebutuhan pokok.

Dampak Kenaikan Harga pada Masyarakat

Kenaikan harga beras medium dan premium tidak serta merta mengurangi konsumsi masyarakat. Banyak keluarga tetap dapat membeli kebutuhan pokok karena pasokan tetap tersedia. Pemerintah juga mendorong transparansi harga agar masyarakat bisa memilih produk dengan harga wajar.

Konsumen di berbagai daerah masih beradaptasi dengan harga baru. Peningkatan harga menjadi momentum bagi pedagang lokal untuk menyesuaikan stok dan strategi penjualan. Dengan demikian, kenaikan harga beras tetap terkendali tanpa mengganggu kesejahteraan masyarakat.

Bagi pedagang, kenaikan harga beras medium dan premium menjadi peluang untuk memperkuat distribusi dan manajemen stok. Dengan pengawasan ketat dari pemerintah, masyarakat tetap mendapatkan kualitas beras yang baik. Dampak ini menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah, distributor, dan konsumen dalam menjaga stabilitas pangan nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index