Rupiah Dekati Rp 17.000 Pasar Tunggu Langkah Bank Indonesia

Rabu, 14 Januari 2026 | 10:45:58 WIB
Rupiah Dekati Rp 17.000 Pasar Tunggu Langkah Bank Indonesia

JAKARTA - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pasar keuangan pada awal 2026. Pergerakan mata uang Indonesia yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran baru, terutama ketika rupiah semakin mendekati level psikologis Rp 17.000 per dollar AS. 

Situasi ini membuat pelaku pasar semakin mencermati langkah dan sikap Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai secara teoretis rupiah memang memiliki peluang untuk melemah hingga menyentuh level Rp 17.000 per dollar AS. 

Namun, arah pergerakan tersebut sangat bergantung pada seberapa agresif Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar. Menurutnya, kebijakan stabilisasi bank sentral menjadi faktor kunci dalam menahan tekanan lanjutan terhadap mata uang garuda.

"Bisa (rupiah melemah ke Rp 17.000 per dollar AS). Namun tergantung seberapa agresif BI intervensi dan tentunya pandangan BI akan nilai tukar tersebut," ujar Lukman.

Peran Bank Indonesia Jadi Penentu Arah Rupiah

Pergerakan rupiah tidak bisa dilepaskan dari strategi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan likuiditas, hingga komunikasi kebijakan moneter menjadi instrumen penting yang menentukan arah pergerakan rupiah ke depan. 

Lukman menegaskan bahwa tanpa perubahan fundamental ekonomi domestik, nilai tukar rupiah akan tetap sulit diprediksi secara pasti.

" Tidak bisa diperkirakan sejauh sebelum ada perubahan fundamental ekonomi domestik," paparnya.

Tekanan terhadap rupiah kembali terlihat pada penutupan perdagangan Selasa sore. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,13 persen secara harian ke posisi Rp 16.877 per dollar AS. 

Pelemahan ini sejalan dengan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang mencatat rupiah berada di level Rp 16.875 per dollar AS, juga melemah 0,13 persen dibandingkan hari sebelumnya. Capaian tersebut sekaligus mencatatkan level terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Situasi ini membuat perhatian pasar semakin tertuju pada langkah lanjutan Bank Indonesia, terutama dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar dan meredam gejolak yang dipicu faktor eksternal.

Tekanan Global Dan Sentimen Domestik Membebani

Menurut Lukman, tekanan utama terhadap rupiah saat ini berasal dari faktor global, khususnya penguatan kembali dollar AS. Pernyataan bernada hawkish dari bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), mendorong dollar AS kembali menjadi aset aman pilihan investor global.

 Sikap The Fed yang cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat membuat arus modal global kembali mengalir ke Amerika Serikat.

Di sisi domestik, rupiah juga masih dibayangi kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia. Isu potensi defisit anggaran yang dikhawatirkan dapat melampaui batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi salah satu sentimen negatif yang menekan nilai tukar. 

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Bank Indonesia turut memperbesar tekanan terhadap rupiah.

"Sebab utama rupiah melemah terhadap dollar AS yang rebound oleh pernyataan hawkish The Fed. Namun rupiah sendiri juga masih tertekan oleh kekhawatiran bahwa defisit anggaran bisa melewati 3 persen. Dan tentunya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh BI masih terus membebani," tukas Lukman.

Kombinasi faktor global dan domestik tersebut membuat pergerakan rupiah semakin rentan terhadap perubahan sentimen pasar dalam jangka pendek.

Proyeksi HSBC Dan Tantangan Arus Modal

Pandangan serupa juga disampaikan HSBC. Bank global tersebut memprediksi rupiah berpotensi melemah hingga mencapai level Rp 17.000 per dollar AS pada akhir 2026. 

Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist sekaligus Asean Economist HSBC, Pranjul Bhandari, mengatakan rupiah diperkirakan bergerak sedikit lebih lemah dibandingkan posisi saat ini di kisaran Rp 16.700–Rp 16.800 per dollar AS.

"Kami pikir pada akhir tahun 2026, kita mungkin akan mencapai angka Rp 17.000 atau sekitar itu. Jadi sedikit lebih lemah daripada saat ini," katanya.

Pranjul menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar suatu negara umumnya dipengaruhi dua faktor utama, yakni kinerja perdagangan dan arus keuangan. 

Namun, dalam konteks pelemahan rupiah saat ini, tekanan lebih banyak berasal dari sisi arus modal. Aliran keluar modal investasi portofolio yang masih berlanjut serta melemahnya penanaman modal asing sejak tahun lalu menjadi faktor penekan utama.

Kondisi tersebut diperburuk oleh neraca pembayaran yang masih mencatat defisit cukup lebar sejak kuartal II-2025. Defisit neraca pembayaran tercatat sebesar 6,7 miliar dollar AS pada kuartal II-2025 dan berlanjut sebesar 6,4 miliar dollar AS pada kuartal III-2025.

"Arus masuk modal adalah bagian yang menjadi masalah, bukan perdagangan," ungkap Pranjul.

Surplus Perdagangan Jadi Penahan Tekanan Rupiah

Di tengah tekanan tersebut, kinerja perdagangan Indonesia masih relatif kuat. Neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 hingga November 2025. Surplus ini menjadi salah satu faktor penahan tekanan yang lebih dalam terhadap rupiah.

"Perdagangan bukanlah masalah yang mencolok saat ini. Saya pikir surplus perdagangan cukup kuat pada tahun 2025 dan neraca transaksi berjalan juga positif," lanjut Pranjul.

HSBC juga memperkirakan pergerakan dollar AS pada 2026 cenderung stagnan atau sedikit melemah, didorong oleh tingginya ketidakpastian kebijakan pemerintah Amerika Serikat. 

Meski demikian, Pranjul mengingatkan bahwa rupiah tetap rentan terhadap penguatan dollar AS, mengingat sepanjang 2025 rupiah tercatat melemah sekitar 3,5 persen meski dollar AS relatif melemah.

"Jika indeks dollar AS menguat, maka itu akan menjadi masalah besar bagi Indonesia, karena rupiah akan terlihat jauh lebih lemah," pungkasnya.

Terkini

Malaysia Targetkan 4,6 Juta Turis Indonesia Tahun 2026

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:17 WIB

Maskapai Low-Cost Paling Aman Dunia 2026 Terungkap

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:14 WIB

11 Cara Efektif Menjaga Kesehatan Kuku Tetap Sehat

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:12 WIB

Tren Baju Lebaran 2026 Gamis Berompi Kini Populer

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:55:11 WIB