Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Diperkirakan Stabil, Menunjukkan Kondisi Finansial Sehat

Senin, 26 Januari 2026 | 15:59:22 WIB
Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Diperkirakan Stabil, Menunjukkan Kondisi Finansial Sehat

JAKARTA - Industri perbankan diperkirakan tetap mampu menjaga pertumbuhan kredit secara stabil pada 2026. 

Proyeksi ini didukung oleh kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat. Selain itu, laba perbankan juga diperkirakan akan tetap tumbuh positif meski tekanan ekonomi global masih terasa.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK menekankan perlunya kesiapsiagaan menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Faktor eksternal dan domestik akan mewarnai dinamika perbankan sepanjang tahun. Kondisi ini mencakup permintaan kredit, iklim investasi, dan prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan proyeksi stabil, OJK mendorong sinergi antara pemangku kepentingan untuk memperkuat penopang pertumbuhan. Kekuatan kolaborasi diharapkan dapat menjaga momentum kredit yang sehat. Hal ini menjadi kunci agar pertumbuhan kredit tetap kontributif terhadap ekonomi.

Pertumbuhan Kredit Tahun 2025 Sebagai Landasan 2026

Sepanjang 2025, pertumbuhan kredit perbankan nasional tercatat 9,69 persen secara yoy. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 10,39 persen. Meskipun demikian, capaian tersebut masih berada dalam target Bank Indonesia sebesar 8—11 persen.

Kredit investasi menunjukkan performa kuat dengan pertumbuhan 21,06 persen secara yoy. Hal ini sejalan dengan belanja proyek berkelanjutan dan ekspansi modal. Sebaliknya, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masih tumbuh moderat, masing-masing 4,52 persen dan 6,58 persen secara yoy.

Kondisi ini menunjukkan perbankan masih mampu mendorong segmen strategis meski beberapa segmen lain kurang optimal. Rasio aset likuid terhadap DPK tetap sehat di level 28,57 persen. Hal tersebut menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas sistem perbankan.

Segmen Kredit dan Potensi Undisbursed Loan

Jumlah kredit menganggur atau kredit yang belum dicairkan mencapai Rp 2.439,2 triliun per Desember 2025. Nilai ini setara dengan 22 persen dari total plafon kredit perbankan. Kondisi tersebut menandakan masih adanya ruang untuk optimalisasi penyaluran kredit ke sektor produktif.

Pengelolaan undisbursed loan yang efisien menjadi perhatian penting bagi perbankan. Bank dituntut melakukan monitoring ketat agar kredit segera terealisasi sesuai tujuan awal. Langkah ini akan meningkatkan kontribusi kredit terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, perbankan perlu menyesuaikan strategi penyaluran untuk mendukung sektor-sektor dengan potensi tinggi. Fokus pada segmen produktif dapat memperkuat fundamental industri perbankan. Pendekatan ini juga meminimalkan risiko kredit bermasalah di masa mendatang.

Target Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026

OJK menargetkan pertumbuhan kredit perbankan di kisaran 8—12 persen pada 2026. Proyeksi ini mencerminkan ekspektasi stabilitas dan kemampuan industri menghadapi ketidakpastian ekonomi. Target tersebut disesuaikan dengan tren pertumbuhan kredit pada tahun sebelumnya.

Fokus pertumbuhan ditujukan pada peningkatan kualitas kredit sekaligus menjaga likuiditas bank. Penyaluran kredit yang tepat sasaran akan memperkuat intermediasi keuangan. Dengan begitu, pertumbuhan kredit tidak hanya kuantitatif, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi perekonomian.

Sinergi antara OJK, perbankan, dan dunia usaha menjadi kunci pencapaian target. Dukungan dari sektor riil dan investasi akan menjaga momentum pertumbuhan kredit. Hal ini menunjukkan pentingnya kolaborasi untuk stabilitas sistem keuangan.

Kondusivitas Ekonomi dan Perbankan yang Sehat

Kondusivitas ekonomi menjadi faktor penentu pertumbuhan kredit yang berkelanjutan. Kepercayaan dunia usaha dan kondisi investasi akan mempengaruhi permintaan pembiayaan. Perbankan diharapkan tetap adaptif dalam menghadapi dinamika pasar.

Pertumbuhan kredit yang stabil mendukung penguatan sektor riil dan perekonomian nasional. Penyaluran kredit yang sehat akan memacu ekspansi usaha dan proyek strategis. Selain itu, pengawasan risiko yang tepat memperkuat daya tahan industri terhadap guncangan eksternal.

Kondisi ini menegaskan pentingnya strategi perbankan yang terintegrasi dengan kebijakan ekonomi nasional. Keseimbangan antara pertumbuhan, likuiditas, dan kualitas kredit menjadi fokus utama. Dengan pendekatan ini, industri perbankan diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal pada pembangunan ekonomi.

Sinergi Pemangku Kepentingan untuk Pertumbuhan Kredit

OJK menekankan perlunya kolaborasi antara regulator, bank, dan pelaku usaha untuk menjaga momentum kredit. Sinergi ini diharapkan mampu mendorong penyaluran kredit yang efisien dan produktif. Langkah ini penting untuk memastikan pertumbuhan kredit tetap kontributif bagi ekonomi.

Kualitas kredit dan permodalan bank yang kuat menjadi modal utama menghadapi ketidakpastian global. Pemangku kepentingan perlu terus memantau kondisi makroekonomi. Dengan koordinasi yang baik, industri perbankan dapat berperan sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Penguatan kapasitas internal perbankan juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Fokus pada manajemen risiko, efisiensi operasional, dan inovasi layanan mendukung stabilitas sistem keuangan. Dengan demikian, pertumbuhan kredit tidak hanya stabil, tetapi juga berkelanjutan dan berdampak positif pada masyarakat.

Terkini