JAKARTA - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) telah memastikan bahwa rencana ekspansi gerai Alfamart tetap berjalan pada tahun 2026, meskipun di tengah tantangan regulasi dan permintaan untuk menahan laju ekspansi ritel modern ke daerah pedesaan.
Dengan target pembukaan sebanyak 800 gerai baru, Alfamart berkomitmen untuk memperluas jangkauannya dan memberikan layanan lebih dekat kepada masyarakat Indonesia, terutama di wilayah yang belum terlayani oleh gerai ritel modern.
Meskipun Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mengimbau pengusaha ritel modern untuk menahan laju ekspansi ke desa, Alfamart tetap berencana membuka gerai sesuai dengan aturan dan kebutuhan pasar.
Solihin, Direktur Sumber Alfaria Trijaya, menjelaskan bahwa mereka akan terus mengikuti koridor yang berlaku dalam menjalankan ekspansi ini, mengutamakan lokasi yang tepat dengan potensi pasar yang menjanjikan.
Menanggapi Regulasi dan Pengaruh Koperasi Desa Merah Putih
Keputusan untuk tetap melanjutkan ekspansi ini meskipun ada regulasi yang meminta perusahaan untuk menahan ekspansi ke wilayah pedesaan mencuat setelah Kementerian Koperasi dan Menteri Desa Yandri Susanto menyatakan kekhawatirannya terhadap dampak ekspansi ritel modern terhadap usaha mikro dan koperasi desa.
Menkop Ferry Juliantono mengingatkan bahwa ruang ekonomi di pedesaan adalah hak masyarakat setempat, dan tidak seharusnya diambil alih oleh ritel modern.
“Pemerintah berharap ada keseimbangan, dan kami juga menghormati usaha-usaha yang sudah ada. Tidak ada niat untuk menghapus yang sudah ada, tapi kami ingin memastikan bahwa ekspansi ritel modern tidak merugikan ekonomi lokal, terutama di desa,” kata Ferry dalam sebuah konferensi pers.
Dalam merespons hal tersebut, Solihin menegaskan bahwa ekspansi Alfamart akan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk persetujuan dari pemerintah setempat dan pemenuhan aturan yang ada.
Meskipun begitu, ia juga menambahkan bahwa Alfamart tetap berkomitmen membuka gerai baru di wilayah yang sesuai dengan potensi pasar dan kepatuhan terhadap regulasi.
Strategi Ekspansi Alfamart di 2026: Fokus pada Wilayah Non-Jabodetabek
Solihin menjelaskan bahwa ekspansi pada tahun 2026 tidak akan lagi terpusat di kawasan Jabodetabek, melainkan difokuskan pada wilayah Indonesia Tengah dan Timur yang lebih membutuhkan kehadiran gerai-gerai ritel modern.
Menurutnya, pasar di luar kawasan besar seperti Jakarta dan sekitarnya masih memiliki potensi yang besar untuk berkembang, dan Alfamart berencana menjangkau daerah-daerah ini dengan lebih agresif.
"Di Jakarta kami sudah cukup banyak, meskipun ada beberapa gerai baru. Tapi kami lebih fokus untuk wilayah Indonesia Timur dan Tengah yang masih punya banyak potensi," ujar Solihin.
Fokus ekspansi ke daerah-daerah yang belum terjamah di luar Jabodetabek menunjukkan bahwa Alfamart tetap memiliki visi untuk merambah pasar-pasar baru dan menciptakan keberagaman dalam jangkauan gerainya.
Dengan pemilihan wilayah yang strategis, Alfamart berharap dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, mengingat setiap gerai baru tidak hanya mendekatkan akses belanja bagi masyarakat tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru. Ini juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung program pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia.
Rencana Ekspansi Lawson dan Pengembangan Bisnis
Selain memperluas jaringan gerai Alfamart, perusahaan juga memiliki rencana untuk memperkuat posisinya di pasar melalui ekspansi gerai Lawson, sebuah jaringan minimarket yang telah diakuisisi Alfamart dari PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI).
Meskipun tidak ada detail spesifik mengenai lokasi ekspansi Lawson, Solihin menyatakan bahwa pengembangan gerai Lawson akan dilakukan dengan hati-hati, mengingat pasar yang lebih terbatas dan segmentasi yang berbeda.
Ekspansi Lawson diperkirakan akan fokus pada wilayah yang membutuhkan keberadaan minimarket dengan konsep yang lebih dekat dengan gaya hidup praktis masyarakat perkotaan. Lawson dikenal dengan konsep ritel yang lebih kecil dan fleksibel, menawarkan berbagai produk siap saji dan kebutuhan sehari-hari, yang sangat cocok untuk gaya hidup masyarakat urban yang dinamis.
Tantangan Ekspansi dan Harapan Masa Depan
Meski begitu, ekspansi Alfamart tidak terlepas dari tantangan besar. Salah satunya adalah biaya sewa tempat yang semakin tinggi, yang sering kali membuat perusahaan harus meninjau kembali kelayakan membuka gerai di lokasi tertentu.
"Kami selalu memperhatikan faktor lokasi, karena itu sangat penting dalam menentukan apakah gerai baru bisa berjalan dengan baik. Jika harga sewa terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan proyeksi, kami akan berpikir dua kali," ujar Solihin.
Selain itu, persaingan dengan pemain ritel lainnya, terutama Indomaret, yang juga memiliki rencana ekspansi serupa, juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Namun, Alfamart percaya bahwa dengan keberagaman produk dan komitmen pada kualitas layanan, mereka akan tetap mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif ini.
Dengan target 800 gerai baru di tahun 2026, Alfamart berharap dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam industri ritel di Indonesia.
Ekspansi ini tidak hanya akan menambah jumlah gerai, tetapi juga memperluas dampak positif yang dapat diberikan kepada masyarakat, baik dalam hal kemudahan berbelanja, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.