JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan perhatian besar terhadap peningkatan kasus penyakit pascabanjir yang menyerang warga Aceh Tamiang, terutama di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak.
Pasca bencana banjir yang melanda, berbagai masalah kesehatan mulai muncul, dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), diare, dan infeksi kulit menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan. Pihak Kemenkes berupaya menanggulangi hal ini dengan pengiriman relawan medis dan berbagai tindakan preventif.
Dalam sebuah keterangan yang dikeluarkan pada Senin, 11 Januari 2026, dr. Yulia Dewi Irawati, seorang dokter relawan Tim Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan, menjelaskan bahwa kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya pulih pascabanjir, buruknya sanitasi, dan tingginya kepadatan di lokasi pengungsian berkontribusi besar terhadap peningkatan kasus-kasus penyakit tersebut.
Faktor Lingkungan dan Kelompok Rentan Jadi Fokus Utama
Dr. Yulia juga menekankan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, penyandang disabilitas, serta orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), yang membutuhkan perawatan berkelanjutan. “Bagi kelompok-kelompok ini, kami memastikan mereka tetap mendapatkan pengobatan yang tepat meski dalam kondisi darurat pascabencana,” katanya.
Kementerian Kesehatan memastikan bahwa pasien dengan penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan asma tetap menerima pengobatan agar kondisinya tidak memburuk di tengah bencana. “Tugas kami tidak hanya menyembuhkan penyakit infeksi, tetapi juga memberikan perhatian khusus kepada pasien yang sudah memiliki penyakit kronis,” tambah dr. Yulia.
Selain pemberian layanan medis, tim relawan juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mengurangi penyebaran penyakit pascabanjir. Selain itu, pemantauan sanitasi lingkungan yang ada di tempat pengungsian juga terus dilakukan, mengingat kondisi tersebut sangat mendukung penyebaran penyakit.
Mencegah Krisis Kesehatan Lanjutan di Wilayah Terdampak
Langkah-langkah yang diambil Kemenkes ini menjadi bagian dari upaya pencegahan krisis kesehatan lanjutan yang berpotensi timbul akibat bencana. Dalam konteks ini, selain pelayanan medis yang dilakukan oleh tim relawan, masyarakat juga diberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Hal ini sangat vital untuk menekan potensi penyebaran penyakit infeksi, yang kerap meningkat di wilayah pascabencana seperti di Aceh Tamiang.
Kemenkes menyebutkan bahwa Tim Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) Batch II telah dikerahkan untuk memperkuat respons terhadap krisis kesehatan di wilayah-wilayah yang terdampak banjir, terutama di daerah yang memiliki akses terbatas. Tim ini dilibatkan dalam berbagai aktivitas, termasuk penyuluhan kepada masyarakat dan pelayanan kesehatan langsung di posko-posko pengungsian.
Fasilitas Kesehatan Desa Sekumur Terganggu, Tim Relawan Dikerahkan
Salah satu daerah yang sangat terdampak adalah Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak. Fasilitas kesehatan di tingkat desa, yang menjadi tumpuan masyarakat, dilaporkan tidak dapat beroperasi secara maksimal. Banyak fasilitas yang rusak atau hilang akibat bencana, termasuk alat-alat medis penting seperti tempat tidur pasien, oksigen, dan alat infus. Kondisi ini semakin memperburuk layanan kesehatan di tengah bencana.
Siti Aisyah, Bidan Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Sekumur, mengungkapkan bahwa fasilitas yang ada saat ini belum sepenuhnya dapat digunakan. “Kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah agar layanan kesehatan bisa kembali berjalan dengan normal,” ujar Siti.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan terus berkoordinasi dengan tenaga kesehatan setempat untuk mendukung pemulihan layanan kesehatan dasar di daerah tersebut. Tim relawan yang diterjunkan ke lapangan juga melakukan pelayanan kesehatan langsung ke masyarakat yang sulit mengakses fasilitas medis akibat jarak dan kondisi geografis yang sulit dijangkau.
Penanganan Kesehatan Pascabencana Secara Bertahap dan Berkelanjutan
Kemenkes menegaskan bahwa penanganan krisis kesehatan pascabanjir ini akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Ini termasuk pemulihan fasilitas kesehatan yang rusak dan memberikan pelayanan medis secara optimal kepada masyarakat yang terdampak. Pemerintah berkomitmen untuk mengembalikan layanan kesehatan di wilayah tersebut agar dapat berfungsi seperti sediakala, dengan fokus utama pada kesehatan masyarakat.
“Langkah-langkah yang diambil di lapangan adalah untuk memastikan masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan yang layak dan memadai. Kami akan terus memastikan bahwa fasilitas kesehatan yang rusak dapat segera diperbaiki dan dapat digunakan kembali,” kata perwakilan Kemenkes.
Kesimpulan: Tindakan Tepat untuk Mencegah Krisis Lebih Lanjut
Secara keseluruhan, upaya Kemenkes dalam menangani masalah kesehatan pascabanjir di Aceh Tamiang menunjukkan komitmen besar pemerintah dalam menghadapi dampak bencana.
Dengan penanganan yang tepat, pelayanan medis yang optimal, serta upaya pencegahan penyakit yang intensif, diharapkan krisis kesehatan pascabanjir dapat diminimalisir dan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Edukasi kepada masyarakat mengenai kebersihan diri dan lingkungan, serta perhatian khusus terhadap kelompok rentan, menjadi langkah-langkah penting untuk menjaga agar tidak terjadi lonjakan kasus penyakit.
Masyarakat yang terdampak juga diharapkan dapat bekerja sama dengan tim medis dalam menjaga kebersihan dan menjalankan PHBS, sehingga kondisi kesehatan di Aceh Tamiang dapat kembali pulih secepat mungkin.